top of page

Selamat Datang di Konawe Utara

Destinasi Wisata

Situs Gua Prasejarah Konawe Utara

 

Kompleks Situs Gua Prasejarah Konawe Utara memperlihatkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan pada kawasan karst Konawe Utara yang merupakan evidensi arkeologis dan faktor pemukiman maupun faktor lainnya, dimana temuan menjadi bukti aktivitas manusia masa lalu.

 

Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi (Balar) Makassar tahun 2009, temuan-temuan arkeologis yang berhasil dikumpulkan baik variabilitas, ciri maupun fungsional maka dapat dipastikan bahwa gua-gua prasejarah Konawe Utara yang teridentifikasi berjumlah 7 (tujuh) situs, dimanfaatkan oleh manusia pendukungnya sebagai tempat penguburan, mulai dari masa prasejarah hingga masa kemudian (sekurang-kurangnya hingga abad-15 M).

 

Selanjutnya dari beberapa jenis dan ciri benda arkeologis yang ditemukan, baik di permukaan gua maupun dari penggalian, seperti alat serpih, tatal batu, batu inti, beliung, gerabah, kerang dan arang, memberi keterangan bahwa sebelum menjadi lokasi penguburan situs-situs tersebut terlebih dahulu menjadi tempat bermukim. Masa hunian gua-gua prasejarah di Konawe Utara, tampaknya berlangsung secara bergelombang.

 

Kemungkinan gua-gua tersebut pertama kali dihuni oleh kelompok manusia yang sudah mengenal tradisi lukis di dinding gua, seperti lukisan-lukisan gua, yang terdapat di gua Asera. Tradisi melukis ini oleh para ahli di tempatkan pada masa Mesolitik (40.000-10.000 tahun yang lalu) yang didukung oleh kelompok manusia dari ras Austro-Melanid.

 

Situs Gua Tengkorak Matarombeo adalah sebaran situs gua prasejarah yang berada di belantara Konawe Utara yang banyak menyimpan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan pada kawasan karst daerah ini.

 

Situs gua prasejarah Matarombeo pertama kali dipopulerkan oleh tim ekspedisi arkeologi dari Perancis yang menyusuri deretan pengunungan karst dari belantara Asera, Oheo hingga di hutan lebat Wiwirano. Jenis dan ciri benda arkeologis yang ditemukan, baik di permukan maupun dari penggalian, seperti alat serpih, tatal batu, batu inti, beliung, gerabah, kerang dan arang, memberi kesimpulan bahwa sebelum menjadi lokasi penguburan, situs-situs tersebut awalnya menjadi tempat bermukim.

 

Sementara temuan Beliung (kapak batu yang diasah) dan gerabah yang didapatkan di Gua Tengkorak, Wiwirano adalah tradisi yang berkembang pada masa bercocok tanam (sekitar 3.000 tahun yang lalu) yang didukung oleh kelompok manusia dari ras Austronesia (Mongoloid).

 

Pernyataan ini didukung oleh tradisi tutur masyarakat setempat (suku Tolaki) yang mengatakan bahwa sebelum leluhur mereka tiba di daratan Sulawesi Tenggara, terlebih dahulu wilayah ini didiami oleh sekelompok manusia yang bertubuh besar.

 

Bisa jadi penduduk asli yang dimaksud dalam ceritera itu adalah migrasi awal manusia moderen dari ras Austo-Melanid yang bermukim di gua-gua dengan mengembangkan tradisi melukis dinding gua (seperti lukisan cap tangan di Gua Asera).

 

Gelombang selanjutnya adalah Manusia Mongoloid Selatan (Penutur Austronesia) yang menyebar sekitar 4.000 tahun yang lalu dari Taiwan melalui pulau-pulau di Asia Tenggara (Philipina, Kalimantan) hingga sampai di Daratan Sulawesi dengan mengembangkan tradisi pertanian padi-padian dan memelihara binatang dan teknologi alat batu (serpih dan beliung) serta tekhnologi gerabah.

 

Di tempat ini wisatawan dapat melakukan aktivitas penelitian dan kegiatan wisata arung jeram.

Prehistoric Site Cave of North Konawe

 

The complex Prehistoric Cave of North Konawe shows archeological evidence that is found in the karsts region of North Konawe is archaeological evidence and settlement factors and others, of which the findings are evidence of past human activity.

 

According to the research of the Institute for Archaeology (BALAR) of Makassar in 2009, in which the archaeological findings were collected both variability, characteristics and functional, it can be ascertained that the identified prehistoric caves of North Konawe totaled seven (7) sites, utilized by human supporters as burial sites, ranging from prehistoric times until the later (at least until the 15th Century AD).

 

Furthermore, of the several types and characteristics of objects of archaeological findings, both on the surface of the cave and from excavations, such as a shale, stone chips, core stones, pickaxe, pottery, shells and charcoal, testify that before becoming the location of burial area the sites firstly were places for living (settlement). Occupancy period of the prehistoric caves in North Konawe seems to take place in evolution.

 

The possibility of these caves was first inhabited by a group of people who had already been familiar with the tradition of painting in the wall of the cave, such as cave paintings in Asera Cave. The painting tradition by experts is placed of the Mesolithic Period (40,000-10,000 years ago), supported by a group of people from Austro-Melanid Race.

 

The site of Matarombeo Skull Cave is the distribution site of prehistoric caves in the wilderness of North Konawe that stores much archaeological evidence found in the karsts region of the area.

 

Matarombeo prehistoric cave site was first popularized by a team of French Archaeological Expedition who had observed down the row of karsts mountains from the wilderness of Asera, Oheo up to the dense forests of Wiwirano. The type and characteristics of objects of archaeological finds, either at the surface or from excavations, such as a shale, stone chips, core stones, pickaxe, pottery, shells and charcoal, gave the conclusion that before it became the burial site, these sites initially were a place for living.

 

While the findings of pickaxe (sharpened stone axes) and pottery found in the Skull Cave, Wiwirano, are a tradition that developed in the plant period (about 3,000 years ago), which is supported by a group of people of Austronesia Race (Mongoloid).

 

The statement is supported by the tradition of local people stories (Tolaki Tribe) who said that prior to their ancestors arrived in mainland Southeast Sulawesi, the first area is inhabited by a group of big people.

 

It could be referred to indigenous people in the story is the early migration of modern humans out of the race of Austro-Melanid living in caves by developing the tradition of painting the walls of caves (like hand-stamps painting in Asera Cave).

 

The next wave was Human of South Mongoloid (Austronesia) that spreads around 4,000 years ago from Taiwan through the islands of Southeast Asia (the Philippines, Borneo) to reach the mainland Sulawesi Island to develop agricultural traditions of cereal plantation, to keep animals and stone-tool technology (flakes and pickaxe), as well as the technology of pottery.

 

In these places tourists can do research and rafting activities.

Gua Tengkorak Matarombeo

bottom of page